Selasa, 22 Oktober 2013

TBC

BAB I
PENDAHULUAN


TUBERCOLOSIS adalah suatu infeksi menular dan bisa berakibat fatal, yang disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis, mycobacterium bovis atau mycobacterium africanum.
Tuberkolosis menunjukkan penyakit yang paling sering disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis, tetapi kadang disebabkan oleh M. bovis atau M. africanum. Bakteri lainnya menyebabkan penyakit yang menyurupai tuberkolosis, tetapi tidak menular dan sebagian besar memberikan respon yang buruk terhadap obat-obatan yang sangat efektif mengobati tubercolosis.
Tuberkolosis ditularkan melalui udara yang terkontaminasi oleh bakteri M. tuberkolosis,. Udara terkontaminasi oleh bakteri karena penderita tuberkolosis aktif melepaskan bakteri melalui batuk dan bakteri bisa bertahan dalam udara selama beberapa jam.
Janin bisa tertular dari ibunya sebelum atau selama proses persalinan karena menghirup atau menelan caiaran ketuban yang terkontaminasi dan ini bisa tertular karena menghirup uadara yang mengandung bakteri.
Di Negara-negara berkembang, anak-anak terinfeksi oleh mycobacterium lainnya yang menyebabkan tubercolosis. Organisme ini disebut M.bovis, yang bisa disebabkan melalui susu yang tidak disterilkan.
System kekebalan seseorang yang terinfeksi oleh tuberkolosis biasanya menghancurkan bakteri atau menahannya di tempat terjadinya infeksi. Kadang bakteri tidak dimusnahkan tetapi tetap berada dalam bentuk tidak aktif (dorman) di dalam makrofag (sejenis sel darah putih) selama bertahun-tahun.
Sekitar 80% infeksi tuberkolosis terjadi akibat pengaktifan kembali bakteri yang dorman. Bakteri yangtinggal didalam jaringan parut akibat infeksi sebelumnya (biasanya di puncak salah satu atau kedua paru-paru) mulai berkembangbiak. Pengaktifan bakteri dorman ini bisa terjadi jika system kekbalan penderita menurun (misalnya karena AIDS, pemakaian kortikosteroid atau lanjut usia).
Perkembangan tuberkoulosis pada setiap orang bervariasi, tergantung kepada berbagai factor.
·         suku : tuberculosis berkembang lebih cepat pada orang kulit hitam dan prnduduk asli amerika.
·         System kekebalan: infeksi aktif lebih sering dan lebih cepat terjadi pada penderita AIDS. Penderita AIDS memiliki peluang sebesar 50% untuk menderita infeksi aktif dalam waktu 2 bulan . jika bakteri tuberculosis dalam waktu 2 bulan adalah sebesar 50%.


BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian

·         Tuberkulosis (TBC) adalah  penyakit akibat kuman Mycobakterium  tuberkculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
·         Tuberkulosis  paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).
·         Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius, yang terutama menyerang parenkim paru (Smeltzer, 2001).
·         Tuberkulosis atau TB (singkatan yang sekarang ditinggalkan adalah TBC) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi  kompleks Mycobacterium tuberculosis (id.wikipedia.org).

Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis diatas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman  Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.



2.      Etiologi
Agens infeksius utama, mycobakterium tuberkulosis adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultra violet, dengan ukuran panjang 1-4 /um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Yang tergolong kuman mycobakterium tuberkulosis kompleks  adalah:
·         Mycobakterium tuberculosis
·         Varian asian
·         Varian african I
·         Varian asfrican II
·         Mycobakterium bovis
Kelompok kuman mycobakterium tuberkulosis dan  mycobakterial othetan Tb (mott, atipyeal) adalah :
·         Mycobacterium cansasli
·         Mycobacterium avium
·         Mycobacterium intra celulase
·         Mycobacterium scrofulaceum
·         Mycobacterium malma cerse
·         Mycobacterium xenopi


Klasifikasi
a.       Pembagian secara patologis :
  • Tuberkulosis  primer ( Child hood tuberculosis ).
  • Tuberkulosis post primer ( Adult tuberculosis ).
b.      Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu :
·         Tuberkulosis Paru BTA positif.
·         Tuberkulosis Paru BTA negative
c.       Pembagian secara aktifitas radiologis :
·         Tuberkulosis paru ( Koch pulmonal ) aktif.
·         Tuberkulosis non aktif .
·         Tuberkulosis quiesent ( batuk aktif yang mulai sembuh ).
d.      Pembagian secara radiologis ( Luas lesi )
·         Tuberculosis minimal, yaitu terdapatnya sebagian kecil infiltrat non kapitas pada satu paru maupun kedua paru, tapi jumlahnya tidak melebihi satu lobus paru.
·         Moderateli advanced tuberculosis, yaitu, adanya kapitas dengan diameter tidak lebih dari 4 cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak lebih dari satu bagian paru. Bila bayangannya kasar tidak lebih dari satu pertiga bagian satu paru.
·         For advanced tuberculosis, yaitu terdapatnya infiltrat dan kapitas yang melebihi keadaan pada moderateli advanced tuberculosis.
e.       Berdasarkan aspek kesehatan masyarakat pada tahun 1974 American Thorasic Society memberikan klasifikasi baru:
·         Kategori O, yaitu tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwayat kontak tidak pernah, tes tuberculin negatif.
·         Kategori I, yaitu terpajan tuberculosis tetapi tidak tebukti adanya infeksi, disini riwayat kontak positif, tes tuberkulin negatif.
·         Kategori II, yaitu terinfeksi tuberculosis tapi tidak sakit.
·         Kategori III, yaitu terinfeksi tuberculosis dan sakit.
f.       Berdasarkan terapi WHO membagi tuberculosis menjadi 4 kategori :
·         Kategori I : ditujukan terhadap kasus baru dengan sputum positif dan kasus baru dengan batuk TB berat.
·         Kategori II : ditujukan terhadap kasus kamb uh dan kasus gagal dengan sputum BTA positf.
·         Kategori III : ditujukan terhadap kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus TB ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I.
·         Kategori IV : ditujukan terhadap TB kronik.


3.      Patofisiologi

Add caption
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5 mikromilimeter.
Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit ( biasanya sel T ) adalah imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal, melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan limfokinnya. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat).
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang besar cenderung tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit ( Dannenberg 1981 ). Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala  pneumonia akut. Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa atau proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang biasa disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast menimbulkan respon yang berbeda.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru dinamakan fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Proses ini dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring, telinga tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan perbatasan bronkus rongga. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge menjadi peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Jenis penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ lainnya.




4.      Manifestasi Klinis
Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.
a.       Gejala sistemik/umum, antara lain sebagai berikut:
·         Demam tidak terlalu tinggi yang  berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
·         Penurunan nafsu makan dan berat badan.
·         Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
·         Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

b.      Gejala khusus, antara lain sebagai berikut:
·         Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
·         Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
·         Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
·         Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.


5.      Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu :
Ø  Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
Ø  Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
Ø  Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
Ø  Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.





6.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       Pemeriksaan Laboratorium
Ø  Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit
Ø  Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
Ø  Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
Ø  Anemia bila penyakit berjalan menahun
Ø  Leukosit ringan dengan predominasi limfosit
Ø  LED meningkat terutama pada fase akut umumnya nilai tersebut kembali normal pada tahap penyembuhan.
Ø  GDA : mungkin abnormal, tergantung lokasi, berat dan sisa kerusakan paru.
Ø  Biopsi jarum pada jaringan paru : Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
Ø  Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.

b.      Radiologi
Ø  Foto thorax : Infiltrasi lesi awal pada area paru atas simpanan kalsium lesi sembuh primer atau efusi cairan perubahan menunjukan lebih luas TB dapat termasuk rongga akan fibrosa. Perubahan mengindikasikanTB yang lebih berat dapat mencakup area berlubang dan fibrous. Pada foto thorax tampak pada sisi yang sakit bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas.
Ø  Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB.
Ø  Gambaran radiologi lain yang sering menyertai TBC  adalah penebalan pleura, efusi pleura atau empisema, penumothoraks (bayangan hitam radio lusen dipinggir paru atau pleura).

c.       Pemeriksaan fungsi paru
Penurunan kualitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu: kapasitas paru total dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural.

7.      Pencegahan
Ø  Imunisasi BCG pada anak balita, Vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
Ø  Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.
Ø  Jangan minum susu sapi mentah dan harus dimasak.
Ø  Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
Ø  Pencegahan terhadap penyakit TBC dapat dilakukan dengan tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Terutama rumah harus baik ventilasi udaranya dimana sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
Ø  Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarangan tempat dan menyediakan tempat ludah yang diberi lisol atau bahan lain yang dianjurkan dokter dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.

8.      Penatalaksanaan

a)      Farmakologi
Terdapat 2 macam sifat/aktivitas obat terhadap tuberculosis , yaitu sebagai berikut:

Ø  Aktivitas bakterisid
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh (metabolismenya masih aktif). Aktivitas bakteriosid biasanya diukur dengan kecepataan obat tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan hasil yang negatif (2 bulan dari permulaan pengobatan).

Ø  Aktivitas sterilisasi
Disini obat bersifat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhannya lambat (metabolismenya kurang aktif). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan setelah pengobatan dihentikan.
Pengobatan penyakit Tuberculosis dahulu hanya dipakai satu macam obat saja. Kenyataan dengan pemakaian obat tunggal ini banyak terjadi resistensi. Untuk mencegah terjadinya resistensi ini, terapi tuberculosis dilskukan dengan memakai perpaduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid. Dengan memakai perpaduan obat ini, kemungkinan resistensi awal dapat diabaikan karena jarang ditemukan resistensi terhadap 2 macam obat atau lebih serta pola resistensi yang terbanyak ditemukan ialah INH.


Adapun jenis  obat yang dipakai adalah sebagai berikut :

-  Obat Primer :                                -  Obat Sekunder :
1.  Isoniazid (H)                               1.  Ekonamid
2.  Rifampisin (R)                            2.  Protionamid
3.  Pirazinamid (Z)                           3.  Sikloserin
4.  Streptomisin                                4.  Kanamisin
5.  Etambutol (E)                              5.  PAS (Para Amino Saliciclyc Acid)
6.  Tiasetazon
7.  Viomisin
8.  Kapreomisin


9.      Pengkajian
Data dasar pengkajian pasien (  Doengoes, Marilynn E : 2000 ) adalah sebagai berikut:
a.       Pola aktivitas dan istirahat
Subjektif : Rasa lemah cepat lelah, aktivitas berat timbul. sesak (nafas pendek), demam, menggigil.
Objektif  : Takikardia, takipnea/dispnea saat kerja, irritable, sesak (tahap, lanjut; infiltrasi radang sampai setengah paru), demam subfebris (40 -410C) hilang timbul.
b.      Pola nutrisi
Subjektif : Anoreksia, mual, tidak enak diperut, penurunan berat badan.
Objektif      : Turgor kulit jelek, kulit kering/bersisik, kehilangan lemak sub kutan.
c.       Respirasi
Subjektif : Batuk produktif/non produktif sesak napas, sakit dada.
Objektif : Mulai batuk kering sampai batuk dengan sputum hijau/purulent, mukoid kuning atau bercak darah, pembengkakan kelenjar limfe, terdengar bunyi ronkhi basah, kasar di daerah apeks paru, takipneu (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleural), sesak napas, pengembangan pernapasan tidak simetris (effusi pleura.), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural), deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik).
d.      Rasa nyaman/nyeri
Subjektif : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Objektif : Berhati-hati pada area yang sakit, prilaku distraksi, gelisah, nyeri bisa timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga timbul pleuritis.
e.       Integritas ego
Subjektif : Faktor stress lama, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Objektif  : Menyangkal (selama tahap dini), ansietas, ketakutan, mudah tersinggung.
f.       Keamanan
Subyektif  : adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker.
Obyektif   : demam rendah atau sakit panas akut.
g.      Interaksi Sosial
Subyektif : Perasaan isolasi/ penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.










10.  Diagnosa Keperawatan
a.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal.
b.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar kapiler, sekret yang kental, edema bronchial.
c.       Gangguan keseimbangan  nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kelelahan, batuk yang sering, adanya produksi sputum, dispnea, anoreksia, penurunan kemampuan finansial.
d.      Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
e.       Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
f.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
g.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, pencegahan berhubungan dengan tidak ada yang menerangkan, interpretasi yang salah, informasi yang didapat tidak lengkap/tidak akurat, terbatasnya pengetahuan/kognitif.
h.      Risiko tinggi infeksi penyebaran / aktivitas ulang infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, fungsi silia menurun/ statis sekret, kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar, malnutrisi, terkontaminasi oleh lingkungan, kurang informasi tentang infeksi kuman.


11.  Intervensi
Dx 1 :
·         Kaji fungsi pernapasan
·         Catat kemampuan untuk mengeluarkan secret atau batuk efektif
·         Berikan posisi pasien semi fowler
·         Bersihkan secret dari  mulut dan trakea, suction bila perlu
·         Pertahankan intake cairan minimal 2500ml/hari kecuali kontraindikasi
·         Lembabkan udara / oksigen inspirasi
·         Berikan obat : agen mukolitik, bronkodilator, kortikosteroid sesuai indikasi
·         Bantu inkubasi darurat bila perlu
Dx 2 :
·         Kaji dipsnea, takipnea, bunyi pernapasan abnormal
·         Evaluasi perubahan tingkat kesadaran
·         Demonstrasikan / anjurkan untuk mengeluarkan napas dengan bibir disuitkan
·         Anjurkan untuk bedrest
·         Monitor GDA
·         Berikan oksigen sesuai indikasi




Dx 3  :
·         Review patologi penyakit fase aktif / tidak aktif
·         Identifikasi orang-orang terdekat
·         Anjurkan pasien untuk tutup mulut dan membuang dahak ditempat penampungan
·         Gunakan masker setiap melakukan tundakan
·         Mengkaji tempratur
·         Identifikasi individu yang beresiko tinggi untuk terinfeksi TBC
·         Tekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani
·         Pemberian terapi INH, etambutol, rifampisin
·         Pemberian terapi pyrazinamid (PZA) / aldinamide, paraamino salisik (PAS), sikloserin, streptomisin
·         Monitor sputum BTA
Dx  4 :
·         Catat status nutrisi pasien
·         Kaji pola diet pasien yang disukai / tidak disukai
·         Monitor intake dan output secara periodik
·         Anjurkan bedrest
·         Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernapasan
·         Anjurkan makan sedikit dan sering
·         Rujuk keahli gizi untuk menetukan komposisi diet
·         Konsul dengan tim medis untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum / sesudah makan
·         Awasi pemeriksaan laboratorium. (BUN, protein serum, albumin)
·         Berikan antipiretik tetap
Dx 5 :
·         Kaji kemampuan belajar pasien
·         Identifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter
·         Tekankan pentingnya asupan diet  tinggi kalori, protein dan intake yang adekuat
·         Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan : jadwal minum obat
·         Jelaskan penatalaksanaan obat
·         Jelaskan tentang efek samping obat
·         Anjurkan pasien untuk tidak minum alcohol jika sedang terapi
·         Rujuk pemeriksaan mata saat mulai dan menjalani terapi etambutol.
·         Dorong pasien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan, jangan menyangkal
·         Berikan gambaran tentang pekerjaan yang beresiko terhadap penyakitnya
·         Anjurkan untuk berhenti merokok
·         Review tentang tuberkolosis dan resiko kambuh lagi



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
v  Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun pada paru yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis, yaitu bakteri tahan asam yang ditularkan melalui udara yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi.
v          TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.
v              Obat-obatan yang digunakan untuk menyembuhkan TBC adalah kombinasi dari:
rifamicin, isonaizid, pyrazinamid, ethambutol dan streptomycin.

v           Pengobatan TBC ini memerlukan waktu yang lama dan obat-obatan yang diminum juga banyak, maka faktor kepatuhan penderita minum obat sangat diperlukan untuk mencegah kegagalan terapi atau resistensi. Untuk itu dilakukan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). Dalam DOTS ada seseorang yang akan mengawasi serta mengingatkan penderita minum obat, yang biasanya berasal dari keluarga atau kerabat dekat penderita. Dengan menggunakan strategi DOTS proses penyembuhan TBC dapat secara cepat dan tepat.

v     Tanda dan Gejala:
       Ø  Tanda
a.       Penurunan berat badan
b.      Anoreksia
c.       Dispneu
d.      Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.

Ø  Gejala
a.       Demam
b.      Batuk
c.       Sesak nafas
d.      Nyeri dada
e.       Malaise








 

Daftar Pustaka

http://medicastore.com/penyakit/69/Tuberkulosis_TBC.html
http://niti-adnyani.blogspot.com/2011/09/laporan-pendahuluan-pada-pasien-dengan.html
http://sikkahoder.blogspot.com/2012/04/pemeriksaan-lengkap-untuk-diagnosa-tbc.html
Simon, Harvey E., 2002, Infections due to Mycobacteria, in Infectious Disease: The Clinician’s Guide to Diagnosis, Treatment, and Prevention, WebMD Profesional Publishing

Ward, Jeremy P.T DKK. SISTEM RESPIRASI. Jakarta : Erlangga, Ed.2, 2005.

Buku askep



Tidak ada komentar:

Posting Komentar