Senin, 07 Oktober 2013

CANCER PARU


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

     Kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada pria dan wanita. Selama 50 tahun terakhir terdapat suatu peningkatan insidensi paru – paru yang mengejutkan. America Cancer Society memperkirakan bahwa terdapat 1.500.000 kasua baru dalam tahun 1987 dan 136.000 meningggal. Prevalensi kanker paru di negara maju sangat tinggi, di USA tahun 1993 dilaporkan 173.000/tahun, di inggris 40.000/tahun, sedangkan di Indonesia menduduki peringkat 4 kanker terbanhyak. Di RS Kanker Dharmais Jakarta tahun 1998 tumor paru menduduki urutan ke 3 sesudah kanker payudara dan leher rahim. Karena sistem pencatatan kita yang belum baik, prevalensi pastinya belum diketahui tetapi klinik tumor dan paru di rumah sakit merasakan benar peningkatannya. Sebagian besar kanker paru mengenai pria (65 %), life time risk 1:13 dan pada wanita 1:20. Pada pria lebih besar prevalensinya disebabkan faktor merokok yang lebih banyak pada pria. Insiden puncak kanker paru terjadi antara usia 55 – 65 tahun.
Kelompok akan membahas Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Kanker Paru dengan kasus pada tuan Ny. G. Diharapkan perawat mampu memberikan asuhan keperawatan yang efektif dana mampu ikut serta dalam upaya penurunan angka insiden kanker paru melalui upaya preventif, promotof, kuratif dan rehabilitatif.

B.     Tujuan Penulisan

Mahasiswa mampu untuk memahami pengertian Tumor da kanker, Definisi kanker paru, Etiologi kanker paru, Klasifikasi kanker paru, Stadium kanker, Pathway kanker paru, Patofisiologi kanker paru, Pemeriksaan diagnostik, Penatalaksanaan, dan Asuhan keperawatan pada klien dengan Kanker Paru.




  


BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A.    Pengertian Tumor  

Tumor adalah pertumbuhan abnormal yang terjadi pada suatu jaringan tubuh. Secara umum, bibit tumor tercetus ketika semacam ada masalah pertumbuhan dan pergantian sel di dalam tubuh.
Memang tidak mudah mengukur bagaimana tumor dapat timbul di dalam tubuh kita. Setiap hari sel mengalami regenerasi, sel baru diproduksi untuk menggantikan sel lain yang telah tidak berfungsi dengan baik.

Sel yang rusak secara otomatis diganti dan disingkirkan dari tubuh karena berpotensi menimbulkan penyakit.

Jika keseimbangan jumlah antara sel baru dan yang mati terganggu, kemungkinan besar tumor akan terjadi. Hal ini mengakibatkan sistem imunitas tubuh akan terganggu.


Penyebab Tumor
1.      Pemakaian rokok yang mengandung nikotin dan zat-zat adiktif lainnya.
2.   Benzene dan zat kimia lain yang berada di lingkungan, diserap oleh darah sehingga meracuni seluruh jaringan tubuh.
3.      Mengonsumsi minuman beralkohol
4.   Sinar radiasi matahari yang tidak mampu ditahan oleh jaringan kulit hingga menembus ke dalam dan membuat karakteristik kulit berubah
5.      Masalah genetis
6.      Gaya hidup yang tidak sehat
7.      Obesitas (kegemukan)
8.      Akibat radiasi

Virus tertentu dapat pula menyebabkan tumor tumbuh menjadi tidak terkendali. Virus itu antara lain cervical cancer (human papilomavirus) dan hepatocellular carcinoma (virus hepatitis B)

Jenis tumor dipengaruhi oleh beberapa hal:
1.      jenis kelamin
2.      umur
3.      lingkungan
4.      genetik
5.      faktor diet


Penyakit yang dimenyertai tumor:
1.      Batuk yang berkepanjangan
2.      Napas pendek-pendek dan menekan dada
3.      Pada kasus tumor kolon, sering kali si penderita mengalami penurunan berat badan yang drastis, terjadi diare berat, konstipasi, anemia, dan tekanan darah yang tak terkontrol
4.      Demam hebat dalam frekuensi sering

Berbagai tes untuk mengetahui seseorang terkena tumor
1.      Tes Biopsy
2.      Memeriksa kandungan kimia dalam darah
3.      Bone marrow biopsy (sering digunakan pada tes lymphoma atau leukimia)
4.      Melakukan uji sinar X Ray pada bagian dada
5.      Completeblood count (CBC)

Perawatan bagi Penderita Tumor :

Perawatan yang diberikan pada penderita tumor sangat bergantung pada tipe tumor, penyebab, juga lokasi tumor tumbuh. Jika dalam pemeriksaan tumor yang dimaksud tidak mempunyai kemungkinan untuk menyebar, dan area nya sangat aman dan tidak menimbulkan kerusakan organ di dekatnya, maka tidak diperlukan perawatan yang serius.

Sering kali tumor dapat dihilangkan dengan perawatan standar. Tapi untuk tumor otak, harus dilakukan operasi yang harus mengikuti prosedur tingkat tinggi dan amat ketat. Hal ini dikarenakan untuk mengurangi efek merusak yang bisa terjadi di sekitar lokasi pembedahan.

Perawatan yang dilakukan untuk tumor berat:
1.      Pembedahan
2.      Radiasi
3.      Kemoterapi
4.      Kombinasi antara ketiga model perawatan di atas.

Pencegahan tumor :
1.      Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi tinggi
2.      Berolahragalah secara teratur
3.      Hindari minum minuman beralkohol
4.      Diet untuk merawat berat badan
5.      Mengurangi risiko tubuh agar tidak terkena radiasi dan keracunan zat kimia
6.      Tidak merokok
7.      Mengurangi kontak dengan sinar matahari secara langsung

B.     Pengertian Kanker


      Penyakit Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang - kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.
Perbedaan tumor dengan kanker
Tumor ada dua macam yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, dan tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan tumor ganas adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali dan merusak jaringan lainnya.

C.  Definisi Kanker Paru

Add caption
    Kanker paru adalah pertumbuhan sel epitel yang ganas pada mukosa saluran nafas bagian bawah (paru-paru) dan termasuk didalamnya adalah Karsinoma Bronkogenik.

Epidemiologi
   Kanker paru merupakan salah satu penyebab angka kematian yang tinggi didunia. Sebagian besar akibat dari kebiasaan merokok. Kanker paru umumnya menyerang antara usia 40 sampai dengan 70 tahun sekitar 50%-60% hanya 2 % dari total angka kejadiannya terjadi pada usia dibawah 40 tahun. Harapan hidup pasien terdiagnosa kanker paru sedikit.

Etiologi

1.    Merokok
Tak diragukan lagi merupakan faktor utama.Suatu hubungan statistik yang defenitif telah ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik).Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor. Merokok memegang peranan paling penting, yaitu 85% dari seluruh kasus (Carr dan Hoyle, 1988) perokok pasif yang menghisap asap dari orang lain, risiko untuk mendapatkan kanker paru-paru meningkat dua kali. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi (juga ditemukan pada asap rokok) adalah 3,4 benzpiren. Nikotin yang terdapat pada asap rokok bukanlah suatu karsinogen. Dari bahasa industri, yang paling penting adalah asbes, yang kini banyak sekali digunakan pada industri bangunan. Risiko kanker paru-paru akan diperberat pada perokok. Faktor genetik yaitu tidak memiliki/hilangnya kromoson 3P yang sering ditemui persis dengan kanker paru, yang fungsinya sebagai tumor suppressor/penjinak tumor. Orang yang memiliki gen CYP1A1, rentan terhadap paparan karsinoma dan tumbuhnya terjadi peningkatan metabolisme prokarsinogen yang berkembang menjadi Ca paru.
2.    Iradiasi
Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50 % meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon. Bahan ini diduga merupakan agen etiologi operatif.
3.    Kanker paru akibat kerja
Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenic (pembasmi rumput).Pekerja pemecah hematite (paru – paru hematite) dan orang – orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.
4.    Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota. ( Thomson, Catatan Kuliah Patologi,1997 ).
5.      Genetik
Terdapat perubahan/ mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni :
a.       Proton oncogen.
b.      Tumor suppressor gene.
c.       Gene encoding enzyme.
d.      Diet.
Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, seleniumdan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.
Klasifikasi 
Klasifikasi menurut WHO untuk Neoplasma Pleura dan Paru – paru (1977) :
1.   Karsinoma Bronkogenik.
a.       Karsinoma epidermoid (skuamosa).
Kanker ini berasal dari permukaan epitel bronkus. Perubahan epitel termasuk metaplasia, atau displasia akibat merokok jangka panjang, secara khas mendahului timbulnya tumor. Terletak sentral sekitar hilus, dan menonjol kedalam bronki besar. Diameter tumor jarang melampaui beberapa centimeter dan cenderung menyebar langsung ke kelenjar getah bening hilus, dinding dada dan mediastinum.

b.      Karsinoma sel kecil (termasuk sel oat).
Biasanya terletak ditengah disekitar percabangan utama bronki.Tumor ini timbul dari sel – sel Kulchitsky, komponen normal dari epitel bronkus. Terbentuk dari sel – sel kecil dengan inti hiperkromatik pekat dan sitoplasma sedikit. Metastasis dini ke mediastinum dan kelenjar limfe hilus, demikian pula dengan penyebaran hematogen ke organ – organ distal.
c.       Adenokarsinoma (termasuk karsinoma sel alveolar).
Memperlihatkan susunan selular seperti kelenjar bronkus dan dapat mengandung mukus. Kebanyakan timbul di bagian perifer segmen bronkus dan kadang – kadang dapat dikaitkan dengan jaringan parut local pada paru – paru dan fibrosis interstisial kronik. Lesi seringkali meluas melalui pembuluh darah dan limfe pada stadium dini, dan secara klinis tetap tidak menunjukkan gejala – gejala sampai terjadinya metastasis yang jauh.

d.      Karsinoma sel besar .
Merupakan sel – sel ganas yang besar dan berdiferensiasi sangat buruk dengan sitoplasma yang besar dan ukuran inti bermacam – macam. Sel – sel ini cenderung untuk timbul pada jaringan paru - paru perifer, tumbuh cepat dengan penyebaran ekstensif dan cepat ke tempat – tempat yang jauh.
e.       Gabungan adenokarsinoma dan epidermoid. 
f.       Lain – lain.
1). Tumor karsinoid (adenoma bronkus).
2). Tumor kelenjar bronchial.
3). Tumor papilaris dari epitel permukaan.
4). Tumor campuran dan Karsinosarkoma
5). Sarkoma
6). Tak terklasifikasi.
7). Mesotelioma.
8). Melanoma.
(Price, Patofisiologi, 1995).


PATOFISIOLOGI

Dari etiologi menyerang percabangan segmen sub bronkus menyebabkan cilia tulang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia, hyperplasia dan displasia. Bila lesi perifer yang di sebabkan oleh metaflasia, hiperpasia dan displasia menembus  ruang pleura, bisa timbul efusi pleura dan bisa di ikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini menyebabkan obststruksi dan ulserasi bronkus dengan di ikuti supurasi di bagian distal. Gejala yang timbul dapat berupa wheezing, batuk, hemokisis, demam dan dingin. Pada stadium lanjut, penurunan berat badan menunjukkan adanya metastase, khususnya pada hati. Kanker paru-paru dapat bermetastase ke struktur-strukur jaringan terdekat seperti limfe, dinding esofagus.

Pathhway kanker paru

Add caption




Stadium Perkembangan Kanker Paru Stadium karsinoma sel kecil 
Karsinoma sel kecil sering sudah menyebar di luar dada ketika
didiagnosis.
Stadium karsinoma non-sel kecil
Stadium kanker paru-paru non-sel kecil lebih kompleks, sebagai berikut:
Stadium 1 : Tumor hanya dalam satu lobus paru-paru.
Stadium 2 : Tumor menyebar terbatas pada kelenjar getah bening di dekatnya, atau tumbuh ke dalam dinding dada.
Stadium 3A: Tumor telah menyebar ke kelenjar getah bening di tengah dada (mediastinum).
Stadium 3B: Tumor telah menyebar melampaui kelenjar getah bening di mediastinum, atau ada koleksi cairan di ruang pleura di paru-paru, atau ada tumor di lebih dari satu lobus.
Stadium 4: Sel-sel kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang jauh.
a)      Stadium tumor berdasarkan letak topografi tumor beserta ekstensi dan metastasenya dalam organ :
1.      Stadium lokal : pertumbuhannya masih terbatas pada organ semula tempatnya tumbuh .
v  Karsinoma in situ : pertumbuhannya masih terbatas intraepitelial, intraduktal, intra lobuler. Istilah ini hanya dikenal pada tumor ganas epitelial.

v  Infiltrasi lokal atau invasif : tumor padat telah tumbuh melewati jaringan epitel, duktus, atau lobulus, tetapi masih dalam organ yang bersangkutan ( pengertian patologi : telah melewati stratum papilare atau membran basalis ) atau telah menginfiltrasi jaringan sekitarnya ( pengertian klinis : sudah ada perlekatan dengan organ sekitarnya ).

2.    Stadium metastase regional : tumor padat telah metastase ke kelenjar limfe yang berdekatan ( kelenjar limfe regional ).

3.      Stadium metastase jauh     : tumor padat telah metastase pasa organ yang letaknya jauh dari tumor primer.
Secara klinis kadang – kadang dipakai dua sitilah diatas sekaligus untuk menyebut stadium tumor padat yaitu Stadium lokoregional, oleh karena pada kenyataannya sering ditemukan stadium lokal dan regional secara bersamaan pada waktu dilakukan pemeriksaan klinis.



b)     Stadium tumor berdasarkan sistem TNM ( stadium TNM )
Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang sarjana Perancis Piere de Noix, kemudian dipergunakan dan disempunakan oleh UICC ( Union Internationale Contre le Cancere ), dan sejak 1958 sistem ini dipergunakan secara luas di berbagai belahan dunia.

    Sistem TNM ini berdasarkan 3 kategori, yaitu : T ( Tumor primer ), N ( Nodul regional, metastase ke kelenjar limfe regional ), dan M ( Metastase jauh ). Masing – masing kategori tersebut dibagi lagi menjadi subkategori untuk melukiskan keadaan masing – masing kategori dengan cara memberi indeks angka dan huruf di belakang T, N, dan M, yaitu :
v  T = Tumor Primer
·         Indeks angka    : Tx, Tis, T0, T1, T2, T3, dan T4
·         Indeks huruf    : T1a, T1b, T1c, T2a, T2b, T3b, dst

v  N = Nodul, metastase ke kelenjar regional.
·         Indeks angka    : N0, N1, N2, N3.
·         Indeks huruf    : N1a, N1b, N2a, N2b, dst

v  M = Metastase organ jauh
·         Indeks angka    : M0, M1
·         Indeks huruf    : Mx
Tiap – tiap indeks angka dan huruf mempunyai arti klinis sendiri – sendiri untuk setiap jenis atau tipe tumor padat. Jadi arti indeks untuk karsinoma payudara tidak sama dengan karinoma nasofaring, dsb. Pada umumnya arti sistem TNM tersebut adalah sebagai berikut :
*      Kategori T = Tumor Primer
Ø  Tx = Syarat minimal menentukan indeks T tidak terpenuhi.
o   Tis = Tumor in situ
o   T0 = Tidak ditemukan adanya tumor primer
o   T1 = Tumor dengan f maksimal < 2 cm
o   T2 = Tumor dengan f maksimal 2 – 5 cm
o   T3 = Tumor dengan f maksimal > 5 cm
o   T4 = Tumor invasi keluar organ.

Ø  Kategori N = Nodul, metastase ke kelenjar regional.
o   N0 = Nodul regional negative
o   N1 = Nodul regional positif, mobile ( belum ada perlekatan )
o   N2 = Nodul regional positif, sudah ada perlekatan
o   N3 = Nodul jukstregional atau bilateral.
Ø  Kategori M = Metastase organ jauh
o   M0 = Tidak ada metastase organ jauh
o   M1 = Ada metastase organ jauh
o   M2 = Syarat minimal menentukan indeks M tidak terpenuhi.



C)    Stadium tumor berdasarkan pentahapan menurut AJCC ( American Joint Committee on Cancer)
Setelah sistem TNM diperkenalkan dan dipakai secara luas pada tahun 1958, kelompok para ahli yang menangani kanker di USA, pada tahun 1959 juga mengemukakan suatu skema pentahapan kanker yang merupan penjabaran lebih lanjut dari sistem TNM. Kelompok para ahli tersebut semula bernama : The American Joint Committee for Cancer Staging and End Results Reporting ( disingkat AJC ). AJC tersebut kemudian berubah nama pada tahun 1980 menjadi American Joint Committee on Cancer ( disingkat AJCC ). Tujuan pembuatan staging kanker tersebut adalah agar lebih praktis dan lebih mudah pemakaiannya di klinik. Buku manual stadium kanker ( Manual for Staging of Cancer ) edisi satu hasil kerja AJCC dipublikasikan pertama kali pada tahun 1977 dan diperbarui setiap beberapa tahun sehingga pada tahun 2002 sudah dikeluarkan edisi 6 sampai saat ini dipakai secara luas.

 Staging menurut AJCC ini pertama harus menentukan T, N, M dari tumor padat tersebut sesuai ketentuan yang ada, dan selanjutnya dikelompokkan dalam stadium tertentu yang dinyatakan dalam angka romawi ( I – IV ) dan angka arab ( khusus untuk stadium 0 ). Lebih mudahnya, sebagai contoh dapat dilihat staging kanker menurut AJCC pada table berikut

Pentahapan Karsinoma  Menurut AJCC Edisi 6 Tahun 2002
Stadium
Deskripsi TNM
Stadium 0
Tis
N0
M0
Stadium I
T1
N0
M0
Stadium II A
T0
N1
M0
T1
N1
M0
T2
N0
M0
Stadium II B
T2
N1
M0
T3
N0
M0
Stadium III A
T0
N2
M0
T1
N2
M0
T3
N1
M0
T3
N2
M0
Stadium III B
T4
N0
M0
T4
N1
M0
T4
N2
M0
Stadium III C
Sembarang T
N3
M0
Stadium IV
Sembarang T
Sembarang N
M1







    Tanda dan Gejala
1.      Batuk
Akibat adanya iritasi yang di sebabkan oleh massa tumor dan akan di ikuti keliarnya seputum yang kental.
2.      Hemoktisis
Seputum bersemu darah karena seputum melalui permukaan tumor yang mengalami ulcerasi.

3.      Anoreksia
Lelah dan mengakibatkan penurunan berat badan perlahan.

4.      Nyeri dada
Jika tumor menyebar ke struktur yang berdekatan dan ke modus limfe regional.

  Komplikasi
a.       Hematorak
b.      Pneumutorak
c.       Empiema
d.      Endokarditis
e.       Abses paru
f.       Atelektasis

Pemeriksaan Penunjang
1.      Radiologi
a.       Foto thorax posterior-anterior (PA) dan lateral serta tomografi dada merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi dapat menyatakan massa udara pada bagian kilus, efusi pleura.
b.      Bronkografi
Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.

2.      Laboratorium
·         Sitologi (seputum, pleura, atau nodus limfe)
Di lakukan untuk menkaji kapasitas memenuhi ventilasi.
3.      Histology
·         Bronkoskopi
Untuk mengetahui karsinoma bronkogenik.
4.      Penatraan
·         CT-Scan untuk mengetahui jaringan parekim paru, pleura dan MRI untuk mengetahui keadaan  

   Penatalaksanaan medis
1.      Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru – paru yang tidak terkena kanker.
a.       Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
b.      Pneumonektomi pengangkatan paru).Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
c.       Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
d.      Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
e.       Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Merupakan pengangkatan dari permukaan paru – paru berbentuk baji (potongan es).
f.       Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
g.      Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi, seperti mengurangi efek obstruksi/ penekanan terhadap pembuluh darah/ bronkus.
h.      Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.



ASKEP KANKER PARU
Data Subjektif
Data Objektif
Klien mengeluh batuk
Klien mengeluh sesak nafas
Klien mengeluh nyeri dada

Data tambahan
 Ø  Kemungkinan pasien mengeluh kesulitan menelan
 Ø  Kemungkinan pasien mengeluh sakit kepala
 Ø  Kemungkinan pasien mengeluh kelelahan
 Ø  Kemungkinan pasien kehilangan selera makanan
 Ø  Kemungkinan pasen mengeluh nyeri dada
 Ø  Kemungkinan pasien mengeluh sesak
Wheezing lokal unilateral
Terdapat tanda infeks (demam, batuk produktif)
Batuk darah
Penurunan berat badan
Disfagia (hilangnya nafsu makan)
Aritmia
Cubbing finger
Perokok berat (5 bungkus perhari)
Ditemukan gambaran adenokarsnoma

Data tambahan
 Ø  Kemungkinan terjadi resiko glikosa dalam urne (ketidaksembangan hormonal, tumor)
 Ø  Kemungkinan terjadi resiko edema pada wajah, leher, dada, punggung
 Ø  Kemungknan terjadi dispnea



ANALISA DATA
Data Fokus
Problem
Etiologi
DS :
 ü  Klien mengatakan keluhan batuk

DO :
 ü  Wheezing loksl unilateral
 ü  Terdapat tanda infeksi (demam, batuk produktif)
Bersihan jalan nafas
Penumpukan secret
DS :
 ü  Pasien mengeluh sesak nafas, nyeri dada

DO :
 ü  Batuk darah
Kerusakan pertukaran gas
Spasme bronkus
DS : -
DO :
 ü  Penurunan berat badan
 ü  Disfagia
Kekurangan nutrisi
Disfagia
DS :
 ü  Perokok berat (5 bungkus/hari)
DO : -
Kurangnya pengetahuan
Kurangnya informasi

DIAGNOSA KEPERAWATAN

      1.      Kebersihan jalan nafas b.d penumpukan secret
      2.      Kerusakan pertukaran gas b.d spasme bronkus
      3.      Kekurangan nutrisi b.d disfagia
      4.      Kurangnya pengetahuan b.d kurangnya informasi

DIAGNOSA
Tujuan dan Kriteria Hasil
intervensi keperawatan
      1.      Kebersihan jalan nafas  b.d penumpukan secret     
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam:
       ·         Sesak nafas berkurang .
       ·      RR= 12-24x/menit
       ·         Tidak ada sputum
       ·         Batuk –

  
     ·         Kaji bunyi nafas.
Rasional : untuk mengetahui adanya bunyi ronkhi / wheezing / krekels
     ·         Memonitor vital sign.
Rasional: untuk memastikan tanda-tanda vital (TD,RR,Nadi, suhu) dalam keadaan normal atau tidak.
     ·         Mengatur posisi semi fowler.
Rasional: agar jalan napas tidak terganggu dan mempermudah pernapasan.
     ·         Memberikan minum air putih min.2 liter/hari dan inhalasi.
Rasional: untuk mengencerkan secret.
.
     ·         Melakukan suction.
Rasional: untuk mengeluarkan secret agar tidak terjadi sesak nafas
2.      Kerusakan pertukaran gas b.d spasme bronkus

     ·         Pantau status pernapasan tiap 8 jam
     ·         Pantau hasil pemeriksaan fungsi paru-paru dan AGD
     ·         Rasional : untuk mengidentifikasi indikasi perkembangan dan penyimpangan  dari hasil yang diharapkan
     ·         Pertahankan masukan cairan sediktnya 2-3 ltr perhari kecuali jika ada kontraindikasi
     ·         Rasional : untuk membantu mengencerkan sekresi paru-paru dan memudahkan pasien untuk batuk dan mengeluarkan secret tersebut
     ·         Memberikan oksigen tambahan melalui nasal kanule, masker parsial atau masker dengan humidifkasi (sesuai indikasi)
Rasional : maksimalkan sediaan oksigen khususnya bila ventilasi menurun, depresi anestesi atau nyeri juga selama periode kompensasi fisiologi sirkulasi terhadap unit fungsional alveolar
     ·         Bantu dgn/dorongan penggunaan spirometri insentif atau tiupan botol
Rasional : mencegah/menurunkan atelektasis dan meningkatkan ekspansi jalan napas kecil


     ·         Auskultasi bunyi usus, observasi atau palpasi distensi pada abdomen
Rasional : bunyi usus mungkin menurun atau tidak ada lagi bila proses infeksi berat/memanjang
     ·         Berikan makanan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering seperti (roti panggang, krekers) dan atau makanan yang menarik untuk pasien
Rasional : tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali
     ·         Konsul dengan ahli gizi
Rasional : untuk mengetahui kebutuhan nutrisi yang tepat dan terpenuhi untuk pasien

  
      ·         Berikan kejelasan penkes tentang penyakit yang diderita pasien
Rasional : agar pasien mengetahui penyebab, dampak, pencegahan, dan pengobatan dari penyakt kanker paru
      ·         Berikan penjelasan tentang bahaya rokok
Rasional : agar pasien dapat mengurangi atau berhenti dlm mengonsumsi rokok dan dapat mencegah terjadinya komplikasi











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Tumor adalah pertumbuhan abnormal yang terjadi pada suatu jaringan tubuh. Secara umum, bibit tumor tercetus ketika semacam ada masalah pertumbuhan dan pergantian sel di dalam tubuh.
2.      Penyakit Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang.
Jadi,, Perbedaan tumor dengan kanker adalah :
Tumor ada dua macam yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak hanya tumbuh dan membesar, tidak terlalu berbahaya, dan tidak menyebar ke luar jaringan. Sedangkan tumor ganas adalah kanker yang tumbuh dengan cepat dan tidak terkendali dan merusak jaringan lainnya. Sedangkan ..
3.      Kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada wanita maupun pria, yang   sering kali di sebabkan oleh merokok.
 Ø  Setiap tipe timbul pada tempat atau tipe jaringan yang khusus, menyebabkan manifestasi klinis yang berbeda, dan perbedaan dalam kecendrungan metastasis dan prognosis.
 Ø  Karena tidak ada penyembuhan dari kanker, penekanan utama adalah pada pencegahan misalnya dengan berhenti merokok karena perokok mempunyai peluang 10 kali lebih besar untuk mengalami kanker paru di bandingkan bukan perokok, dan menghindari lingkungan polusi.
 Ø  Pengobatan pilihan dari kanker paru adalah tindakan bedah pengangkatan tumor. Sayangnya, sepertiga dari individu tidak dapat dioperasi ketika mereka pertama kali didiagnosa.
 Ø  Asuhan keperawatan pascaoperasi klien setelah bedah toraks berpusat pada peningkatan ventilasi dan reekspansi paru dengan mempertahankan jalan nafas yang bersih, pemeliharaan sistem drainage tertutup, meningkatkan rasa nyaman dengan peredaran nyeri, meningkatkan masukan nutrisi, dan pemantauan insisi terhadap perdarahan dan emfisema subkutan. 







B.     Daftar Pustaka
Doenges, Marilynn E, (1999), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC, Jakarta 
Long, Barbara C, (1996), Perawatan Medikal Bedah; Suatu Pendekatan Proses Holistik, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran, Bandung.
Suyono, Slamet, (2001), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi 3, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.
Underwood, J.C.E, (1999), Patologi Umum dan Sistematik, Edisi 2, EGC, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar